Saya hanya ingin mencatat perjalanan dengan keluarga ke Tanjung Pinang beberapa waktu lalu, mudahan ada hikmah yang dapat di ambil.
Awal reservasi tiket ke agen travel, saya sudah memberitahukan, “Saya membawa orangtua yang sudah sepuh yang terkena Parkinson“. Petugas travelnya menjawab,” Lapornya nanti pas check in di SoeTa aja”. Sipp, karena kondisinya cuma susah jalan aja, lainnya, tekanan darah, jantung, pikiran, semua sesuai umur. Satu hal lagi, semakin berumur, beliau semakin senang jalan-jalan.
Sebagai anak yang paham birokrasi di Bandara, berangkat dari rumah, memperhitungkan check in di awal waktu yang ditetapkan ( antisipasi hal-hal tak terduga). Yups, saya lapor ke petugas Batavia Air di counter check in pukul 8.oo WIB (belum ada yang antri, masih sepi, pesawat take off rencananya pukul 9.50WIB).
Disini saya kasih tau petugasnya,” Mas, saya bisa minta bangku dekat pintu, soalnya membawa orangtua yang terkena parkinson dan saya minjam kursi rodanya satu”.
Petugas : “Bawa surat dari dokter ga?”.
Saya : “Enggak mas, lupa saya, tapi beliau untuk naik tangga pesawat masih bisa”.
Petugas meninggalkan mejanya, bertanya ke counter 13 yang jaraknya satu counter untuk check in, dan jawabannya, ” Ibu ga bisa check in, bapaknya harus di bawa kesini “.
“ OK, saya boleh pinjam kursi rodanya terlebih dahulu? kursi roda orangtua saya kursi roda bongkar pasang, dan sudah dirapikan “.
Si petugas, lapor lagi, hasilnya, “ tidak boleh, Buk!!! “. Astaghfirullah. (padahal porter yang membantu, sudah mengingatkan saya sebelumnya, check in aja dulu Buk, ntar baru lapor kondisi bapaknya di Loket 13, saya lebih memilih melapor terlebih dahulu, daripada di pesawat ntar ribet pindah bangku —> Ternyata “berbohong” sedikit asal urusan lancar, lebih membudaya
). (more…)