Menurut saya, biasanya perjalanan dilakukan untuk membebaskan diri dari sebuah keterkungkungan. Setelah melakukan sebuah perjalanan, diharapkan “rasa” itu akan terbebaskan. Rasa rindu akan terbebaskan dengan memulai sebuah langkah, menuju pertemuan. Menuntaskan rasa kangen akan sebuah kebiasaan dari suatu daerah, carilah suasana yang mendekatinya.
Ah, sejatinya, hidup itu sendiri adalah sebuah perjalanan, menuju pemberhentian terakhir nan abadi.
Dalam rangka memuaskan rasa rindu akan tradisi di bulan Ramadhan, kedua orangtua saya memutuskan untuk melakukan perjalanan ke rumah anaknya yang lain. Tidak sama persis dengan suasana di kampung halamannya, setidaknya mendekati, karena masih di tanah Sumatera.
Saya dan junior di ajak serta, mengantarkan sekaligus bersilaturahim dengan saudara dan keponakan. Perjalanan harus dilakukan lewat udara.
Junior sudah lama tidak melakukan perjalanan lewat udara. Terakhir, mondar-mandir ke bandara cuma menjemput dan mengantar kakek neneknya. Terbiasa dengan perjalanan lewat darat dan penyebrangan antar pulau. Samar-samar dia masih ingat, pernah melakukan perjalanan lewat udara alias naik pesawat berdua emak, tiga tahun yang lalu, saat usianya empat tahun.
Sehingga ini sebuah pengalaman yang sangat mendebarkan lagi, memutuskan mau ikut aja, iya, enggak, berkali-kali negosiasi sama emaknya. Karena pernah melihat berita, tentang pesawat yang melakukan pendaratan darurat, mulai paham, dan langsung memikirkan berbagai macam kemungkinan. Emaknya mengingatkan, ” berdoa minta perlindungan Yang Maha Kuasa, dong”.
Pengaruh iklan pesawat Garuda juga membuat heboh. “Mam, ntar di pesawat kursinya bisa di turunkan untuk tidurkan”.
“Kita, perjalanannya cuma memakan waktu 1.5 jam nak, kalau tidur, ya duduk aja, itu untuk perjalanan yang memakan waktu lama”, junior agak sedikit kecewa mendengar penjelasan emak, petualangan di pesawat tidak seperti yang dipikirannya
.
Kemudian dia semangat lagi, “aku duduknya dekat jendela aja, mau lihat awan, kalau udah di udara aku jalan di lorongnya aja, trus ke toilet juga, seru juga”. Asal jangan mengganggu penumpang lain dan bikin repot mbak pramugarinya aja ya nak
.
Hari ini, Jum’at 22 Juli 2011, pukul 9.50 WIB dalam perjalanan menuju Kepri. Semoga kerinduan kedua orangtua ysalma akan suasana Ramadhan di kampung halamannya, terpuaskan dengan suasana Ramadhan di daerah Kepulauan Riau ini.
### Hanya catatan seorang emak yang juga anak, dalam perjalanan tumbuh seorang anaknya
.









Red
/ Juli 25, 2011Pengaruh iklan pesawat Garuda juga membuat heboh. “Mam, ntar di pesawat kursinya bisa di turunkan untuk tidurkan” <— kalo di kelas bisnis spt yg sering gue naikin yah gak bisa atuuuhhh
mascayo
/ Juli 25, 2011semarak ramadhan mulai beriak ya mbak.
semoga lancar dan menyenangkan
Irfan Handi
/ Juli 25, 2011Marhaban ya ramadhan.
Taufiq_Qipot
/ Juli 25, 2011wahhhh.. jadi pengen mudik gembira ini…
andrehorizonwatcher
/ Juli 25, 2011wah di kepri ni? batam kah? semoga ramadhan di kepri memberi kesan tersendiri dan membawa berkah
Kaget
/ Juli 27, 2011Kepri? Pulang ke Batam ya Mbak….
Senangnya selama ramadhan bersama ortu tercinta
Akhmad Muhaimin Azzet
/ Juli 28, 2011wah, sebuah perjalanan yang sangat bermakna
[turut mengambil makna dari perjalanan ke kepri ini]
semoga perjalanan kita senantiasa dalam rahmat-Nya.
dheeasy
/ Agustus 7, 2011Karena perjalananan berujung pada satu tujuan, pulang…
Selamat Ramadhan-an tuk Emak dan junior beserta keluarga
Baju Tanah Abang
/ Agustus 10, 2011met menjalankan ibadah puasa…salam kenal…