Jum’at,24 Juni 2011, pukul 9.00 WIB, mulai beraksi jadi tukang potong rambut dadakan Bapak.
Beberapa hari sebelumnya, sudah ngelihat, rambut, kumis, jenggot, kakeknya junior sudah kelihatan agak panjang. Sibuk mikir, mencari tempat potong rambut di sekitar rumah, yang nyaman untuk beliau dan yang memotongnya. Yang penting hasilnya, pendek dan rapi.
Akhirnya YSalma berpikir, kenapa ga di potong sendiri aja
. Walaupun tak pernah belajar memotong rambut, tetapi “korban” gunting di tangannya ysalma dari dulu, cukup banyak juga, saudara sepupu di kampung; teman-teman; junior, sampai TK B, lebih senang hasil potongan emaknya ( walau hasilnya agak kacau-kacau dikit, tapi sambil ngoceh dan main air sepuasnya
) daripada kepalanya di puter-puter sama mbak-mbak atau mas yang motong, ga betah.
Awal mulanya, berani motong rambut, karena bapak juga. Sewaktu saya SMP, beliau minta tolong merapikan sedikit rambutnya. Beliau meyakinkan, kalau saya ngikutin instruksi beliau, pasti hasilnya ga mengecewakan. Mulai saat itu, kalau cuma merapikan rambut sedikit, beliau lebih senang minta tolong anaknya. Anaknya punya bakat alam, tapi ga terasah nih, Adakah yang mau jadi guru saya sekarang
.
Hari ini setelah sekian puluh tahun, ga pernah merapikan rambutnya lagi, saya melakukannya lagi. Bedanya, dulu bayangan yang terpantul dari cermin yang beliau pegang adalah sosok lelaki gagah. Sekarang, lelaki yang sudah termakan asam manis kehidupan.
### Hanya sebuah catatan, seorang anak dengan bapaknya.










nurrahman18
/ Juni 29, 2011klo ibu saya juga suka potong rambut anak2nya
doni
/ Juli 29, 2011mau dong di potongin ..
nnti gantian mbak yg saya potongin deh ..
hehe